Pentingnya Udara Bersih dan Sehat Saat Berkendara Selama Masa Pandemi

0
160

Di masa pandemi seperti saat ini, kita di tuntut untuk tetep menjaga kesehatan dan juga menjaga udara bersih yang kita hirup selama berada di rumah maupun ketika sedang berkendara. Selain karena pandemi COVID-19, Sahabat JD.ID juga harus memperhatian asupan udara yang kita hirup sehari-hari.

Kemacetan di Ibukota, kepulan asap knalpot bisa terlihat di ruas jalanan yang kembali terkena macet. Seiring dengan berlanjutnya pandemi, terutama setelah PSBB memasuki masa transisi, banyak orang mulai beraktifitas kembali dan memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi dibanding transportasi umum demi alasan kesehatan dan keamanan.

Dalam waktu singkat, indeks kualitas udara yang dimonitor di beberapa lokasi dan dapat dilihat dari situs dan/atau aplikasi seperti Air View by Blueair kembali menunjukkan peningkatan ke level yang sama seperti sebelum masa pandemi. Contohnya, berdasarkan sensor berlokasi di Jalan M.H. Thamrin, Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index atau disingkat AQI) mencatat nilai 112 yang mengindikasikan udara sedikit tidak sehat.

Di kota-kota besar seperti di Jakarta, 80% polusi udara berasal dari emisi kendaraan bermotor, sisanya berasal dari kegiatan industri, seperti cerobong asap pabrik. Di masa pandemi ini, polusi udara bisa meningkatkan risiko kematian pada orang yang terinfeksi virus. Studi menemukan, setiap kenaikan 1 mikrogram PM2,5 di udara bisa meningkatkan kematian sebanyak 15%.

Polutan partikel berupa debu halus/partikel mikroskopik (PM2,5) dari asap knalpot, atau bisa juga berasal dari ban dan rem kendaraan, terhirup dan mengendap di paru-paru dan lebih berbahayanya ikut masuk ke dalam sistem peredaran darah.

Polutan tidak kasat mata ini sangat berbahaya dan mendapat julukan pembunuh senyap (silent killer), karena bisa memicu berbagai macam penyakit yang bisa mematikan, seperti gangguan saluran pernapasan, jantung, stroke, kanker dan penyakit paru kronis.

Tidak hanya memicu penyakit yang mematikan, PM2,5 juga bisa mengganggu kesehatan walau terpapar sebentar, gejala yang timbul seperti iritasi pada mata, bersin-bersin, sesak napas, kehilangan konsentrasi dan sakit kepala.

Untuk orang-orang yang memiliki riwayat alergi atau yang rentan seperti bayi, lansia maupun ibu hamil, masalah udara berpolusi tentunya tidak bisa dianggap sepele karena bisa berakibat fatal tehadap kesehatan.

Polutan di udara bisa berupa partikel seperti debu halus (PM2,5), kepulan asap hitam, serta gas kimia yang berbahaya; Nitrogen Dioksida (NO2), Ozon (O3), Karbon Monoksida (CO), Sulfur Dioksida (SO2), Timbal (Pb), dsb.

Ketika jalanan sedang macet, polutan dari knalpot kendaraan di sekeliling kamu masuk melalui celah-celah kaca jendela ataupun pintu mobil, atau dari pendingin udara (air conditioner atau AC), kemudian terakumulasi di dalam karena tidak adanya ventilasi. Kimia gas bersumber dalam kabin dari off-gassing atas bahan interior, seperti dashboard, karpet dan juga jok mobil akan turut  menambah polusi udara dalam kendaraan.

Sehingga tidak heran jika udara di dalam kabin bisa mencapai 15x lebih buruk dari udara di dalam ruangan. Hal ini tentunya menampik anggapan bahwa mengendarai kendaraan pribadi lebih sehat karena tertutup dan ber-AC.

Sebaliknya, polusi udara di dalam kabin bisa mengancam kesehatan dan keselamatan pengemudi dan penumpang selama berkendara. Bisa dibayangkan jika Sahabat JD.ID terjebak di kemacetan selama berjam-jam setiap harinya! Tanpa Sahabat JD.ID sadari, kesehatan kamu perlahan-lahan akan terpengaruh oleh polusi udara.

Bagaimana Cara Agar Sehat dan Aman Saat Berkendara?

Polusi udara bukan hanya mengganggu kesehatan, namun juga keselamatan saat berkendara. Kepulan asap knalpot di depan kendaraan atau efek mata perih yang ditimbulkan dari asap tersebut, bisa mengganggu penglihatan dan membahayakan saat mengemudikan kendaraan.

Setelah membaca artikel ini, Sahabat JD.ID tidak perlu khawatir untuk bepergian dengan kendaraan pribadi, baik untuk mobilisasi sehari-hari maupun bepergian bersama keluarga tercinta pada akhir pekan. Berikut tips praktis untuk menghindari paparan polusi selama berkendara:

  • Menghindari Paparan Polusi Udara Dari Sekeliling

Jaga jarak aman kendaraan Sahabat JD.ID terutama jika bus atau truk tepat di depan kendaraan kamu. Hal ini untuk mengurangi paparan asap dan gas kimia dari knalpot kendaraan. Pada saat macet, kepulan asap knalpot kendaraan di depan kamu akan terlihat lebih jelas.

  • Mengeliminasi Sumber Polusi Udara di Kabin

Tanpa kita sadari, pemakaian pewangi ruangan/kabin bisa mencemari udara. Memang, pewangi ruangan bisa menyerap bau tidak sedap sekaligus mengharumkan ruangan. Namun di sisi lain, pewangi ruangan bisa memperburuk kualitas udara di dalam kendaraan karena menyumbang gas kimia yang beracun (VOC).

  • Hindari Membuka Kaca Jendela 

Jika Sahabat JD.ID sedang berhenti pada persimpangan lampu merah, pastikan kaca jendela tertutup rapat untuk mengurangi udara berpolusi dari luar masuk ke dalam.

  • Menjaga Kebersihan di Dalam Kabin

Untuk menghindari partikel debu terakumulasi di dalam kendaraan, bersihkan jok mobil, kaca, dan dashboard secara berkala.

  • Meningkatkan Kualitas Udara di Kabin Dengan Pembersih Udara

Alat pembersih udara di ruangan atau indoor mampu membersihkan 99.97% polutan partikel dan menyerap bau serta gas kimia. Kini, alat tersebut bisa dimanfaatkan untuk kendaraan. Blueair telah merancang khusus alat pembersih udara untuk kabin; Blueair Cabin, dengan membawa keunggulan teknologi HEPASilentTM dari rumah ke kendaraan. Blueair Cabin mampu membersihkan seluruh volume udara di dalam kendaraan dalam waktu 5 menit atau 12 kali dalam setiap jam, termasuk performanya dalam menyerap gas berbahaya seperti formaldehid dan VOC, sehingga udara bersih dan segar bisa di nikmati kapan saja dan dimana saja.

Kamu bisa temukan berbagai pilihan alat pembersih udara seperti Blueair dan Stadler Form yang sesuai dengan ukuran ruangan di JD.ID dengan harga yang menarik serta bergaransi resmi yang dilengkapi dengan service center terpercaya dan pastinya #DijaminOri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here