Amankah Berpergian Dengan Pesawat Saat New Normal Seperti Saat Ini ?

0
173

Baru – baru ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akhirnya menarik rem darurat dengan kembali menerapkan PSBB. PSBB kali ini sendiri berbeda dengan PSBB pada April 2020 lalu, namun akan lebih ketat dibandingkan dengan PSBB transisi.

Dengan tetap menyesuaikan kewajiban protokol kesehatan bagi siapapun yang hendak menggunakan transportasi umum. Salah satunya adalah pemberlakuan kewajiban syarat rapid test (hasil non reaktif) atau tes PCR (hasil negatif).

Oleh karenanya, beberapa wilayah pariwisata pun telah membuka kembali destinasi wisata yang bisa dikunjungi oleh wisatawan lokal dan pastinya harus tetap melakukan protokol kesehatan seperti, memastikan pembatasan kapasitas maksimal penumpang, menyediakan tempat cuci tangan atau hand sanitizer, hingga melakukan penyemprotan disinfektan pada sarana dan prasaran transportasi secara berkala.

Namun, apakah benar-benar aman bepergian dengan pesawat mengingat risiko penularan tinggi di dalam ruangan?

Untuk menghindarkan risiko, sebaiknya kita perlu tahu apa saja yang bisa berpotensi menularkan virus corona saat berada di dalam pesawat, antara lain:

  • Berada di dalam satu pesawat dengan orang yang sedang tidak sehat atau menunjukkan gejala flu (seperti batuk atau bersin).
  • Menyentuh permukaan atau benda seperti meja makan, layar tv, dudukan tangan pada kursi, sabuk pengaman,  kaca jendela, sandaran kursi, majalah atau panduan keselamatan.
  • Sulit menerapkan jarak aman karena tempat duduk yang rapat dan lorong yang sempit.
  • Toilet, dalam sehari kita bisa ke tempat ini 3-5 kali dan menyentuh benda atau permukaan berikut: gagang pintu, keran air dan tombol flush.
  • Dari dan menuju kabin pesawat, seperti di ruang tunggu, kepadatan digaris antrian pada saat melalui security check point dan/atau imigrasi dan pabean.

Amankah Sirkulasi Udara di Dalam Kabin Pesawat?

Di masa pandemi, hal utama yang dikhawatirkan saat bepergian dengan pesawat adalah berdasarkan asumsi kita bahwa selama perjalanan, sejumlah orang menghirup udara yang sama dalam satu kabin, terutama jika jarak yang ditempuh jauh.

Seperti yang kita telah ketahui, untuk bisa terinfeksi, tidak saja dipengaruhi oleh waktu terpapar, namun juga oleh konsentrasi atau banyaknya jumlah virus di dalam kabin.

Seseorang yang sedang tidak sehat atau menunjukkan gelaja seperti batuk dan bersin, akan mengkontaminasi udara di dalam kabin pesawat. Studi menemukan virus tetap bisa menyebar walau sudah menerapkan jarak aman pada saat:

  • Batuk: 3,000 percikan besar (droplet).
  • Bersin: 40,000 droplet, atau 10 kalinya pada saat
  • Berbicara: 1,000 droplet.

Dari informasi di atas, mungkin muncul pertanyaan; bagaimana jika kita berada dalam satu kabin dengan seseorang yang sedang tidak sehat? Apakah aman? Tentunya sangat mengerikan karena kita bisa saja tertular. Itulah mengapa orang yang tidak sehat tidak dianjurkan untuk bepergian dengan menggunakan pesawat.

Walau rentan, namun Center for Disease Control (CDC) lewat situsnya mengungkapkan bahwa perjalanan dengan pesawat tidaklah berisiko tinggi karena cairan yang keluar saat bersin dan batuk akan jatuh ke bawah atau permukaan. Menjaga kebersihan dan menggunakan masker bisa mencegah virus menular lewat udara dan kontak langsung.

Selain itu, udara di kabin disaring dengan menggunakan penyaring udara berbasis HEPA atau media yang memiliki efisiensi tinggi dalam panyaringan partikel mikroskopik.

Filter HEPA mampu menyaring 99.97% partikel miskroskopik, hingga berukuran 0,1 mikron termasuk virus dan bakteri. Tidak hanya dibersihkan, udara dijaga tetap bersih karena disaring sebanyak 10-12 kali dalam setiap jam atau 5-6 kali setiap menitnya, sehingga virus yang masih bertahan di udara bisa dikendalikan dan dilumpuhkan kemampuan menginfeksinya.

Bepergian dengan menggunakan pesawat sebaiknya mempertimbangkan seluruh rangkaian perjalanan termasuk perjalanan dari dan menuju kabin pesawat. Gunakan alternatif lain jika jarak atau waktu tempuh bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi atau keperluan yang tidak terlalu mendesak.

Penyaringan HEPA kini sudah banyak dipakai pada alat pemberih udara (air purifier) seperti Roger dari Stadler Form dan Blueair, bahkan telah dikembangkan dengan memadukan HEPA dengan elektrostatik, atau dikenal dengan HEPASilent dari Blueair, sehingga mampu melenyapkan virus dan bakteri juga.

Blueair juga telah melakukan pembaruan dengan menghadirkan versi tercanggihnya, Blueair classic 90i sehingga dapat digunakan untuk melenyapkan polutan partikel, termasuk bakteri dan virus, serta bau dan gas dalam satu alat pembersih udara secara bersamaan.

Kamu bisa temukan berbagai pilihan alat pembersih udara seperti Blueair dan Stadler Form yang sesuai dengan ukuran ruangan di JD.ID dengan harga yang menarik serta bergaransi resmi yang dilengkapi dengan service center terpercaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here